Dialog pun mulai mengarahkan pada beberapa solusi yang ditawarkan oleh pemerintah kepada para penghuni bantaran sungai tersebut, pertama adalah transmigrasi dan yang kedua adalah pindah ke rumah susun yang akan dibangun sebagai mega proyek pemerintah. Namun bapak penghuni tersebut dengan berbagai alasan dengan sudut pandang orang kecil berusaha bertahan, karena merasa solusi yang ditawarkan terlalu berat untuk kondisi lingkungan para penghuni bantaran sungai.
Saya bukan bermaksud membela para penghuni bantaran sungai itu, mereka memang salah dan saya sepakat atas justifikasi bahwa salah satu penyebab terjadinya banjir adalah keberadaan mereka ditepian-tepian sepanjang sungai ibukota. Tapi mari kita coba memandang lebih luas dan lebih fair. Justifikasi tersebut hanya salah satu, demi Tuhan itu hanya salah satu dari sekian banyak penyebab yang mustinya juga dilemparkan ke publik sebagai justifikasi penyebab terjadinya bencana banjir ini. Drainase yang buruk, habisnya daerah resapan, habisnya hutan-hutan didaerah hulu, dll, dst dan sebagainya halah….
Mungkin memang tatanan seperti ini akan terus terabadikan di republik ini, nasib wong cilik akan tetap selalu menjadi bahan lindasan indah dan gemerlapnya keklisean tatanan negara dan bangsat ini. Bencana ini bukan sekedar musibah atau azab, bencana ini akibat dari kebodohan negara dan bangsat ini sendiri. Dan derita-derita korban bencana pun hanyalah menjadi angka dan nominal untuk mendapatkan nominal yang lebih besar yang bernama sumbangan seperti biasanya. Bahkan perilaku seorang seseorang yang berposisi sangat-sangat terhormat untuk membuat para korban tragedi yag mengenaskan ini bisa tersenyum kembali justru menganggap semua kondisi ini hanya terlalu didramatisir dan dilebih-lebihkan oleh pihak media. Tidak bisakah semua pihak saling bahu membahu menyumbangkan kecerdasan setiap komponen untuk menyikapi bencana ini dan bukan hanya melempar kesalahan seperti sang lakon lain yang hanya bisa berjualan angin goreng ini?
Apa semua ini belum cukup? apa semua ini masih akan terlupakan semudah biasanya? dan ingat, masih ada bencana lain yang menanti didaerah timur pulau jawa ini. Lumpur lapindo yang dalam beberapa bulan ini terlupakan dengan mudahnya, jika guyuran hujan mulai berpindah ke kota sidoharjo dan sekitarnya bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Apa akan dibiarkan tanpa persiapan seperti bencana banjir di ibukota ini? Dan apakah nantinya juga akan ditangani dan disikapi dengan wacana yang sama seperti saat bencana banjir di ibukota sekarang ini? Menangislah jika memang seperti itu…. Toh besok-besok usai bencana juga akan dengan mudah melupakan semuanya.
Recent Comments